Minggu, 14 Juli 2013

Gallery Majelis Malam Jum'at 15122011






Rabu, 10 Juli 2013

Syeikh Abu Bakar bin Salim


Syaikh Abu Bakar Bin Salim lahir pada hari Sabtu, 23 Jumadil Awal 919 H/9 Agustus 1513 M, di kota Tarim Al Ghanna, Hadromaut, Yaman. Kota tempat kelahirannya adalah suatu kota yang dipenuhi orang-orang soleh dan termashur dengan auliya Allah serta para ulama utama.
Beliau lahir dari pasangan Habib Salim bin Abdullah bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf dan ibunya Syarifah Afifah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar Assakran bin Imam Qutb Abdurrahman Assegaf.
Beliau memiliki enam saudara yaitu Sayyid Agil, Sayyid Syaikh, Sayyid Alwi, Sayyid Hussein, Sayyid Abdurrahman, dan Syarifah Aisyah. Sedang Syaikh Abu Bakar memiliki tujuh belas anak. Empat perempuan dan tiga belas laki-laki. Di antara anak laki-lakinya Huseinlah yang di pilih sebagai kalifahnya (pengganti kedudukan orang tua). Habib Husein bin Abu Bakar bin Salim di kenal sebagai guru Habib Umar bin Abdurrahman Al Attos.
Pada masa kecilnya Syaikh Abu Bakar bin Salim mendapat pendidikan agama dari para ulama di Tarim. Beliau sangat menekuni ilmu pengetahuan. Semasa belajar, beliau sudah mengkhatamkan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghozali sebanyak 40 kali, dan mengkhatamkan kitab fiqih Syafi'iyah, Al Minhaj karya Imam Nawawi sebanyak 3 kali. 
Usai belajar di Tarim, Syaikh Abu Bakar bin Salim pindah ke kota Inat, sebuah kota berjarak sekitar 40 menit perjalanan dengan mobil (dulu di tempuh setengah hari perjalanan dengan jalan kaki). Beliau membeli tanah dan membangun rumah dan masjid di Inat. Di kota inilah beliau mengajar hingga akhir hayatnya. Syaikh Abu Bakar bin Salim sering memberikan wejangan kepada masyarakat setelah sholat Jum'at sampai menjelang ashar di masjid yang di bangunnya.
Syaikh Abu Bakar bin Salim di awal suluknya (perjalanan spiritual menuju Allah SWT melalui tahapan melatih diri dan berjuang melepaskan diri dari belenggu hawa nafsu dan kecintaan pada kebendaan) telah melakukan amalan dan riyadoh (pelatihan spiritual dan kejiwaan dengan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang dapat mengotori jiwa) yang lazim dilakukan kaum sufi.
Pernah selama waktu yang cukup lama beliau berpuasa dan hanya berbuka dengan kurma yang masih hijau. Juga pernah selama 90 hari beliau berpuasa dan melakukan sholat malam di lembah yabhur. Selam 40 tahun beliau sholat subuh di Masjid Ba'isa di kota Lisik dengan wudhu sholat isya'.
Setiap malam beliau berziarah ke tanah pekuburan kaum salihin dan para wali di tarim dan berkeliling untuk melakukan sholat dua rakaat di berbagai masjid di Tarim. Beliau mengakhiri perjalanannya dengan sholat subuh berjama'ah di masjid Ba'isa. Sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah meninggalkan sholat witir dan dhuha.
Sepanjang hidupnya beliau berziarah ke makam Nabiyullah Hud AS sebanyak 40 kali. Pada setiap malam selama 40 tahun beliau berjalan kaki dari kota Lisik menuju Tarim untuk melakukan sholat pada setiap masjid di Tarim (di Tarim sekarang ada sekitar 360 masjid). Beliau mengusung ghirbah (tempat air) untuk mengisi  tempat wudhu serta tempat minum bagi para peziarah, juga kolah untuk tempat minum hewan.

Makam Syaikh Abu Bakar bin Salim  
Makam Syaikh Abu Bakar bin Salim.

Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf


Penulis Sejarah dan Sastrawan Hebat
Salah satu pakar nasab di Indonesia yang meletakkan dasar-dasar ilmu nasab adalah Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff. Selain dikenal sebagai pakar ilmu nasab yang jempolan, ia juga dikenal wartawan, sastrawan dan guru bagi banyak orang.
Habib Ahmad dikenal sebagai wartawan, sejarawan, dan sastrawan keturunan Arab yang terkenal pada masa kemerdekaaan RI. Sayid Ahmad bin Abdullah Assagaf, banyak menyerang pemerintah kolonial Belanda lewat tulisan-tulisannya. Untuk melengkapi data tulisannya itu, dia mendatangi berbagai tempat di Indonesia untuk bertemu dengan tokoh masyarakat, ulama, dan sejarawan.

Ia juga adalah salah satu pendiri pergerakan Arrabithah Al-Alawiyyah dan sekaligus menerbitkan majalah Arrabithah Al-Alawiyyah, majalah yang mengupas bidang keagamaan dan politik. Majalah Arrabithah Al-Alawiyyah dalam waktu yang tidak lama menjadi wadah bagi para penulis muda untuk menyampaikan pendapat mengenai keislaman dan politik, berperan sebagai sarana untuk menampik pengaruh orientalis barat di Indonesia.
Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff sendiri lahir pada tahun 1299 H (1879 M) di kota Syihr, Hadramaut. Ketika umurnya menginjak usia 4 tahun, ia dibawa oleh kedua orang tuanya ke kota Seiwun, saat itu terkenal sebagai kota ilmu yang menghasilkan banyak ulama besar dan shalihin. Di kota itu, ia mempelajari ilmu ushuludin, fiqh, tata bahasa, sastra dan tasawuf.
Tak puas menyerap ilmu di Seiwun, lantas ia pergi ke Tarim yang saat itu juga dikenal sebagai pusat para ulama besar. Hampair setiap hari, ia mendatangi majlis-majlis ilmu dan mengadakan hubungan yang akrab dengan guru-guru yang shalih, seperti Sayid Abdurahman bin Muhammad al-Masyhur, Syaikh Saleh, Syaikh Salim Bawazier, Syaikh Said bin Saad bin Nabhan, Sayyid Ubaidillah bin Muhsin Assegaff, Habib Ahmad bin Hasan Alattas, Habib Muhammad bin Salim As-Siri dan lain-lain.
Ustadz Ahmad Assegaff dikenal sangat gemar mengadakan perjalanan ke berbagai negeri tetangga untuk menemui ulama-ulama dan mengadakan dialog dengan para cendekiawan, sehingga ia sangat dikagumi oleh pusat-pusat ilmiah pada masa itu.
Tahun 1333 H (1913 M), ia berlayar ke Singapura dan ke Indonesia untuk mengunjungi saudaranya yang tertua, Sayid Muhammad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff di Pulau Bali. Ia tinggal di Pulau Dewata itu beberapa lama, sambil berguru sekaligus berdakwah di sana.
Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Surabaya, berjumpa dengan beberapa perintis pergerakan Islam serta para cendekiawan. Mereka sering terlibat diskusi membahas kebangkitan pergerakan keturunan Arab dan kaum muslimin di masa mendatang.
Habib Ahmad saat itu terpilih menjadi direktur yang pertama dari Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Ia memimpin sekolah yang kebanyakan diikuti oleh warga keturunan arab itu dengan sangat bijaksana dan mulai saat itu namanya dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang pendidikan. Di kota Surabaya, ia menikah dan mempunyai beberapa orang putra.
Kemudian, ia pindah ke Solo dan tetap bersemangat mencari ilmu pengetahuan. Di kota batik inilah ia mempelajari ilmu psikologi dan manajemen sekolah, kebetulan ia juga menjadi salah pengurus sekolah swasta. Selain mengajar, ia juga berdagang sehingga ia sering pergi ke Jakarta untuk mengurus perniagaannya. Usaha dagang semakin maju. Itu membuat Habib Ahmad pindah ke Jakarta dan menjadi pimpinan sekolah Jami’at Kheir.
Berbagai perubahan demi kemajuan dalam pendidikan mulai ia rintis, di antaranya dengan membuka kelas-kelas baru bagi para pelajar, menyusun tata tertib bagi pelajar, mengarang buku-buku sekolah serta lagu-lagu untuk sekolah.
Buku-buku pelajaran yang ia susun diantaranya terdiri dari buku-buku agama, sastra dan akhlaq. Keberhasilannya dalam memimpin sekolah dan menciptakan sistem pendidikan, mengundang perhatian yang luas dari pemerhati masalah pendidikan baik dalam maupun luar negeri, seperti dari Malaysia dan Kesultanan Gaiti di Mukalla. Intinya, mereka meminta Habib Ahmad untuk memimpin pengajaran sekolah di negeri mereka. Namun, permintaan tersebut ditolak dengan halus, karena ia tengah merintis pembentukan Yayasan Arrabithah Al-Alawiyyah.
Melalui pergerakan Arrabithah Al-Alawiyyah pula, ia mempunyai pengaruh yang sangat kuat di dalam memberikan petunjuk dan pentingnya persatuan di kalangan umat Islam dalam menghadapi penjajahan. Semua itu dapat dilihat dalam qasidah, syair serta nyanyian yang ia karang.
Salah satu kitab yang dikarang oleh Habib Ahmad adalah Kitab Khidmatul Asyirah. Kitab itu dibuat sebagai ringkasan dari kitab Syams Azh-Zhahirah. Dalam kitab ini Habib Ahmad menguraikan secara sistematis mengenai nasab dan pentingnya setiap orang memelihara kesucian nasabnya dengan ahlak yang mulia. Karena tidaklah mudah untuk menjaga nasab, sebagai ikatan penyambung keturunan serta asal-usul kembalinya keturunan seseorang kepada leluhurnya.
Dalam kitab ini, riwayat seseorang ia diteliti dengan seksama supaya terjaga kesucian nasabnya, dengan susunan yang tertib dari awal sampai akhir. Habib Ahmad bekerja keras untuk menyempurnakan isi buku ini walaupun ia mempunyai kesibukan yang luar biasa baik Rabithah Alawiyah maupun sebagai pengajar di Jami’at Kheir. Segala rintangan dihadapinya dengan penuh ketegaran dan semangat pantang mundur dengan satu tekad menyusun sejarah nasab Alawiyin merupakan pekerjaan yang sangat mulia.
Habib Ahmad, dalam kitab Khidmatul Asyirah menambahkan catatan beberapa orang yang terkemuka serta para ulama yang hidup sekitar tahun 1307-1365 H, saat menulis kitab ini sekitar tahun 1363 Habib Ahmad menghitung terdapat lebih dari 300 qabilah dan kitab ini pertama kali diterbitkan di Solo pada Rabiul Awal 1365 H.
Dari sekitar 20 buah bukunya, Ahmad bin Abdullah Assagaf sempat menulis sejarah Banten berjudul Al-Islam fi Banten (Islam di Banten). Karangannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Fatat Garut (Gadis Garut) berupa roman kehidupan multietnik Indonesia di awal abad ke-20 oleh penerbit Lentera pada tahun 1997 dan diterjemahkan oleh Drs. Ali bin Yahya. Karya sastra ini sangat indah dan patut untuk dibaca karena banyak mengandung budaya bangsa dan syair-syair.
Karya-karyanya yang lain banyak disebarluaskan di madrasah-madrasah sebagai buku wajib pelajaran sekolah baik dalam mau pun di luar negeri. Diantaranya adalah cerita-cerita yang berisi masalah pendidikan seperti Dhahaya at-Tasahul, dan Ash-Shabr wa ats-Tsabat (berisi tentang cara hidup yang baik di dalam masyarakat untuk mencapai kemulian dunia dan akhirat), buku-buku pendidikan dan ilmu jiwa, Sejarah masuknya Islam di Indonesia dan lain-lain.
Keahlian Habib Ahmad didalam syair mendapat pengakuan dari banyak ahli syair di negara Arab. Selain itu Habib Ahmad juga punya keahlian di bidang kerajinan tangan dan elektronika dan pernah membuat sebuah alat musik yang dinamakan Alarangan.
Saat tentara Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942 dan menyerbu Hindia Belanda serta menyebabkan pertempuran yang sengit di Batavia menyebabkan Habib Ahmad pindah ke Solo. Setelah pertempuran mereda, Habib Ahmad kembali ke Jakarta dan mengajar di Kalibata.
Setelah 40 tahun menetap di Indonesia, pada 1950 ia berniat meninggalkan Indonesia menuju ke Hadramaut. Tepat pada hari Jumat, 22 Jumadil Awwal 1369 H ia berangkat dari Jakarta, dengan mempergunakan kapal laut dari pelabuhan Batavia. Namun Allah SWT telah menentukan umurnya, tepatnya Selasa 26 Jumadil Awal 1369 H ia berpulang ke haribaan-Nya.
Setelah diadakan upacara keagamaan seperlunya di atas kapal, pada hari Kamis, 28 Jumadil Awal 1369 H, jenazahnya kemudian dimakamkan di laut lepas, sebelum memasuki pelabuhan Medan. Yang sangat disayangkan, banyak karya Habib Ahmad yang belum sempat dibukukan juga ikut hilang dalam perjalanan itu.

Al-Habib Muhsin bin Umar al-Atthas


Ketika hendak memulai menulis biografi pendiri pondok ini, saya bingung harus memulai dari mana. Dan saya juga merasa tidak berhak untuk menulisnya. Itu tidak lain, karena orang ini, adalah orang yang teramat mulia di mata saya, dan tentunya di mata semua orang yang pernah mengenalnya, pernah bersama dengannya dan tarlebih lagi di mata orang-orang yang pernah belajar darinya.
Siapa yang kenal nama ini, dan siapa pula diantara kita yang belum pernah mengenalnya. Tapi saya yakin, bahwa Anda sekarang penasaran ingin mengenal lebih jauh lagi tentang guru kita ini.

Beliau adalah seorang ulama yang merupakan keturunan RasululLah shallallahu ‘alaihi wasallama dari Sayyidina Husein ra, dari qabilah al-Atthas, salah satu Qabilah ‘Alawiyah besar di Hadhramaut Yaman Selatan. Hadhramaut memang terkenal sebagai daerah tempat bermukimnya Ba‘Alawi, para keturunan Sayyidina Husein radhiya Allahu ta’ala ‘anhu dari Syekh Ahmad Al-Muhajir rahimahu Allahu yang berhijrah dari Irak ke Hijaz. Dari Hadhramaut inilah asal ayah beliau, yaitu al-Habib Umar bin Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Aqil al-Atthas, yang kemudian hijrah ke Aceh.

Al-Habib Muhsin bin Umar al-Atthas, terkenal di kalangan teman-teman dan para muridnya, mempunyai akhlaq yang terpuji dan rendah hati. Begitu juga, orang mengenal beliau sebagai pribadi yang senantiasa menepati janji, dermawan, ikhlas dalam berbuat dan tidak pernah sakit hati pada orang lain. Beliau sangat senang menyambung silaturrahim dan berziarah ke sanak keluarga yang tinggal bertebaran diberbagai kota dan Negara. Bahkan menjelang akhir hayat beliau, ketika beliau sudah sakit-sakitan dan harus cuci ginjal tiga kali sehari, beliau masih menyempatkan diri pergi ke Hadhramaut untuk mengenalkan anak-anak beliau dengan kerabat yang ada disana.
Beliau rahimahu Allahu ta’ala, sangat mencintai anak yatim. Dan selalu berusaha mencari dana, guna keperluan hidup, pendidikan dan masa depan anak-anak yatim. Dan mungkin yang paling berkesan di mata murid-murid beliau, dan teman sesama guru, baik di ma’had Darul Hadits, madrasah al-Atthas dan tentunya juga ma’had Babul Khairat, adalah semangat beliau yang senantiasa membara dalam segala situasi dan kondisi, untuk bisa terus mengajar murid-muridnya. Beliau akan marah sekali, kalau mendapati seorang muridnya bermalas-malasan dan tidak mengulang kaji pelajarannya.
Ketika beliau masih mengajar di ma’had Darul Hadits, hampir tiap malam, menjelang tidur, beliau memeriksa kamar dan tempat tidur murid-muridnya. Dan apabila didapatinya salah seorang diantara mereka tidak berada di atas tempat tidur, beliau pasti akan mencarinya, keliling pondok, bahkan sampai keluar pondok. Beliau akan terus mencari, sampai ketemu.
Kecintaan al-Habib Muhsin terhadap pendidikan tetap melekat pada diri beliau, sampai hari-hari terakhir menjelang beliau meninggal. Beliau masih menyempatkan diri mengajar, walaupun harus sambil berbaring. Beliau tidak menghiraukan rasa sakit beliau, asalkan bisa tetap mengajar murid-murid yang sangat beliau cintai.
Di desa Pedawa, Idi Aceh, pada hari Ahad, 6 Oktober 1935 M / 8 Rajab 1354 H, lahirlah seorang bayi mulia yang kemudian diberi nama Muhsin. Muhsin kecil, tumbuh dan menghabiskan masa kanak-kanaknya dalam keadaan yatim. Karena ayahnya, al-Habib Umar al-Atthas, meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Hal itu, membuat beliau harus bekerja, di usia yang masih belia. Walaupun begitu, beliau tidak lantas meninggalkan majlis ilmu dan bangku sekolah. Di pagi hari beliau pergi ke madrasah, dan di sore hari, beliau bekerja apa saja untuk menafkahi ibunya dan dirinya sendiri.
Itu dijalaninya, sampai beliau bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, IAIN ar-Raniri Banda Aceh. Tapi baru menginjak semester dua, beliau berhenti kuliah sementara (cuti) untuk pergi ke Pekalongan, mencari dan menziarahi kerabat beliau disana, seperti wasiat ayah beliau sebelum meninggal dunia.
Sesuai dengan keinginannya, di Pekalongan al-Habib Muhsin berhasil berjumpa dan bersilaturrahim dengan semua famili yang ada di kota ini. Tapi rupanya Allah ta’ala punya rencana lain, di Pekalongan, beliau jatuh sakit, dan secara tidak sengaja, disana jugalah beliau bertemu dengan al-Habib Abdul Qadir Bilfaqih, pendiri Ma’had Darul Hadits Malang. Dalam keadaan sakit, beliau diijazahi al-Habib Abdul Qadir, shalawat thibb. Dan al-Habib Abdul Qadir, meminta beliau kalau nanti sembuh, agar datang ke Malang.
Memang betul, setelah beliau membaca shalawat thibb yang diijazahi al-Habib Abdul Qadir, dalam waktu yang tidak lama, beliau pun sembuh. Sebagai rasa terima kasih dan untuik menepati janjinya pada al-Habib Abdul Qadir, maka beliau pergi ke Malang. Sesampainya di Malang, al-Habib Abdul Qadir meminta beliau untuk mengajar di ma’had Darul Hadits.
Al-Habib Muhsin tinggal di Malang dan mengajar di Darul Hadits selama enam tahun. Kemudian pulang ke Aceh, untuk melanjutkan kuliah di IAIN ar-Raniri. Setelah empat tahun, beliau berhasil menyelesaikan kuliah. Setelah meraih gelar Drs, beliau mendapatkan tawaran untuk berkarier di lingkungan Depag Aceh sebagai guru. Tapi di waktu yang bersamaan, beliau juga mendapat surat dari al-Habib Abdullah bin Abdul Qadir bilfaqih di Malang, dan meminta beliau untuk kembali lagi ke Darul Hadits.
Setelah beliau shalat istikharah, beliaupun memilih untuk kembali lagi ke Malang, dan mengajar lagi di ma’had Darul Hadits. Di Darul Hadits, beliau dikenal sebagai guru yang yang sangat disiplin dan sangat perhatian pada murid-muridnya.
Setelah selama 20 tahun al-Habib Muhsin mengabdikan dirinya di ma’had Darul Hadits, beliaupun berkeinginan untuk mempunyai pondok sendiri. Maka beliau membeli sebidang tanah di dusun Ngamarto Lawang. Di atas tanah ini, sebagai langkah pertama, beliau membangun rumah untuk tempat tinggal dan mushalla kecil untuk shalat jama’ah dan mengaji al-Quran anak-anak kecil.
Ketika beliau mula-mula tinggal di Ngamarto dan baru merencanakan untuk membangun pondok, banyak rintangan yang harus beliau hadapi. Seperti persoalan tanah yang harus diselesaikan di pengadilan, penolakan dari sebagian warga jahil dan jahat, yang tidak ingin ada orang alim yang mengajarkan kebaikan di wilayah mereka. Beberapa kali mereka berusaha merusak rumah beliau dan berusaha mencelakakan diri beliau dan keluarga. Tapi beliau tidak pernah menghadapi semua itu dengan kekerasan. Beliau selalu tersenyum dan tetap menyapa mereka setiap kali bertemu dengan mereka. Bahkan ketika ada diantara mereka yang meninggal dunia, beliau berta’ziah dan ikut menshalatinya.
Al-Habib Ali bin Muhammad al-Atthas, nazir madrasah al-Atthas Johor Baharu masa itu, ketika mendengar kemahiran dan kegigihan al-Habib Muhsin dalam mengajar, beliaupun diminta oleh al-Habib Ali untuk datang ke Malaysia dan meminta beliau untuk mengajar di madrasah al-Atthas. Karena panggilan jiwa dan kecintaan beliau terhadap dunia pendidikan, beliaupun menyanggupi permintaan itu. Setelah bermusyawarah dengan istri dan anak-anak beliau, beliau segera berangkat pergi ke Malaysia, dengan niat untuk berkhidmat pada pendidikan dan lebih mengamalkan ilmu yang ada pada beliau.
Sebagaimana di Darul Hadits, di Madrasah Al-Athas beliau juga sangat dihormati dan dicintai oleh murid-murid beliau. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, masyarakat Johor telah banyak yang mengenal dan mencintai beliau. Dengan berbekal do’a-do’a ma’tsur yang di ijazahkan oleh para datuk dan guru-guru beliau, beliau menekuni ruqyah syar’iyah untuk mengobati berbagai penyakit. Baik penyakit jiwa maupun badan. Beliau selalu ikhlas ketika berdo’a untuk orang lain. Hampir seluruh semenanjung Malaysia telah beliau datangi untuk hanya berziarah dan mendo’akan orang lain. Wajah beliau yang teduh dan senyum beliau yang selalu tersungging, telah menumbuhkan kecintaan yang mendalam pada diri orang yang perama kali berjumpa dengan beliau, -ada seorang warga Negara Malaysia keturunan Jerman bernama Zhafir Lembang, ia berkata: belum pernah saya berjumpa dengan seorang yang bisa membuat saya jatuh cinta pada perjumpaan pertama, kecuali perjumpaan saya dengan Habib Muhsin.
Kesejukan nasehat dan keberkahan do’a Al Habib Muhsin dikenal luas di Malaysia, sampai – sampai banyak pasangan suami – istri yang hendak bercerai, setelah dinasehati dan dido’akan oleh Al-habib Muhsin, mereka membatalkan rencana mereka, dan kembali melanjutkan rumah tangga dengan mawaddah sakinah warahmah.
Setelah enam belas tahun beliau tinggal di Malaysia, mengajar, berdakwah dan berziarah, beliaupun kembali ke Lawang, untuk melanjutkan Pembangunan Pondok yang telah lama beliau idamkan. Sudah menjadi kebiasaan beliau bila hendak melakukan suatu rencana dan pekerjaan, beliau selalu istikharah kepada Allah subhanallahu wata’ala, dan meminta saran serta nasehat dari pada para ulama dan Habaib. Adalah Al Habib Muhammad bin Husein Ba’abud Pendiri dan Pengasuh Ma’had Darun Nasyi’in Lawang, yang menyarankan beliau untuk mendirikan pondok pesantren putri, dengan dasar pemikiran, bahwasannya ma’had untuk putra telah banyak, sedangkan ma’had untuk putri. masih sedikit.
Dengan bertahap, lokal demi lokal, ruangan demi ruangan dengan bantuan para aghniyaa dan muhsinin di Malaysia akhirnya pembangunan Pondok Pesantren tersebut selesai dikerjakan. Dan pada hari ahad tgl 28 Juni 1998 / 4 Rabi’ul Awal 1419 H, Pondok yang kemudian dinamakan Ma’had Babul Khairat Litarbiyatil Banat ini, diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur waktu itu, Basofi Sudirman. Sesuai dengan harapan beliau sejak lama, bahwa didirikannya Pondok pesantren Putri Babul Khairat, ialah untuk mendidik dan mengkader para putri-putri islam menjadi srikandi-srikandi muslimah yang memiliki pengetahuan luas dibidang agama, mempunyai sifat keibuan, guna mendidik tunas-tunas bangsa sebagai generasi penerus yang berguna bagi agama dan negara ( baca Profil Pondok ).
Setelah usaha pertama, yaitu mendirikan Pondok Putri selesai, ( Baca sejarah pembangunan ) beliaupun berkeinginan mendirikan Pondok Pesantren Putra, dan telah membeli sebidang tanah seluas 2.400 m2 di desa Kertosari Purwosari Pasuruan. Namun belum lagi beliau melangkah lebih jauh dalam perencanaan pondok ini, ketika beliau jatuh sakit, dan sempat keluar masuk rumah sakit (hospital), baik di Indonesia maupun di Malaysia, hingga akhirnya beliau dinyatakan gagal ginjal.
Walaupun begitu, beliau masih tetap semangat untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut. Dalam kondisi sakit sebenarnya mengharuskan beliau istirahat, beliau tetap pulang pergi Indonesia-Malaysia, untuk mencaru bantuan dana, guna pembangunan pondok ini.
Niat tulus, keikhlasan dan azam beliau yang besar, untuk mendirikan pondok pesantren putra Babul Khairat, telah Allah ta’ala catat sebagai amalan yang sempurna disisi-Nya. Beliau tidak bisa mewujudkan cita-cita mulia tersebut, karena Allah tabaraka wata’ala harus memanggil beliau keharibaan-Nya. Pada tanggal 25 Februari 2006 M / 26 Muharram 1427 H, beliau rahimahu Allahu ta’ala menghembuskan nafas yang terakhir di rumah sakit Tun Aminah Johor Baharu Malaysia, setelah sebelumnya beliau sempat dirawat di rumah sakit tersebut selama sebelas hari.
Tinggallah sekarang, anak-anak beliau, para murid beliau dan semua orang yang cinta pada beliau untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan beliau. Segala puji bagi Allah Tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang, shalawat dan salam tetap tercurah pada sayyidina Muhammad, para keluarga, sahabat dan segenap orang yang masih setia meniti jalannya yang lurus.

Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar


Kabupaten Banyuwangi, sebuah kabupaten yang terletak paling ujung timur dari propinsi Jawa Timur selain terkenal sebagai kota santri juga di kabupaten ini terdapat seorang auliya’ yang setiap tahun haulnya diperingati dengan besar-besaran setiap hari ahad pagi minggu pertama bulan Muharam. Waliyullah itu adalah Habib Hadi bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Soleh Al-Hadar. Ia Lahir pada tahun 1908 M (1325H) di Banyuwangi. Habib Hadi dari kecil telah menunjukan akhak yang terpuji. Dari kanak-kanak ia telah menunjukan sikap-sikap yang baik. Dengan teman sepermainan tidak pernah mau mengganggu dan kalau pun diganggu, ia tidak pernah melawan.
Pada umur sembilan tahun, ibunya yang bernama Syarifah Syifa binti Mustafa Assegaff meninggal. Ia kemudian oleh ayahnya Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar dibawa ke Gathan, Hadramaut. Selama di negeri para auliya itu, Habib Hadi belajar dengan ulama-ulama setempat. Hari- hari diisinya dengan taklim dan mengaji.
Saat bulan Ramadhan tiba, masyarakat muslim Hadramaut menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah dengan waktu yang berbeda-beda, mulai dari lepas shalat isya sampai jelang waktu sahur. Habib Hadi tak ketinggalan ikut shalat tarawih berjamaah dari masjid yang satu ke masjid yang lainnya dari mulai lepas Isya sampai waktu jelang sahur. Kebiasaan ini membuat ayahanda Habib Hadi, Habib Abdullah bin Umar marah kepadanya.”Kamu ke sini bukan untuk beribadah. Kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu. Jangan satu malam kamu habiskan untuk shalat tarawih.”
Padahal usianya pada waktu itu, baru 11 tahun, ayahnya meninggal. Habib Hadi kemudian tinggal bersama seorang adiknya, yakni Habib Muhammad. Saat itulah ia hidup sangat sederhana di Hadramaut, namun di tengah kesederhanaan itu, ia selalu mendahulukan adiknya. Kalau ia mendapatkan dua keping roti dan secangkir kopi tiap sehabis shalat berjamaah, dua keping roti dan secangkir kopi itu diberikan untuk adiknya dan ia lebih berpuasa. Demikian kecintaan yang luarbiasa untuk sang adik.
Habib Hadi dari kecil telah menjaga makanan yang dimakan dari sesuatu yang haram, bahkan yang diragukan (subhat). Pernah suatu ketika sang adik membawa buah-buahan, ia kemudian bertanya, ”Dari mana kamu dapat buah-buahan ini?”
Sang adik menjawab,”Saya memungut dari kebun sebelah.”
Mendengar jawaban dari sang adik, Habib Hadi marah kemudian ia memegang buah yang dibawa sang adik dan berkata, ”Kembalikan ke tempat yang kamu yang dapat.”
Sang adik pun akhirnya menuruti perintah sang kakak mengembalikan buah yang jatuh kepada sang pemilik kebun.
Demikianlah sedari kecil, Habib Hadi sangat menjaga makanan yang masuk ke perutnya. Sehingga ibadah sesuatu
Setelah ayahnya meninggal, Habib Hadi belajar dengan Habib Muhammad bin Hadi Assegaff di Seiwun. Habib Muhammad bin Hadi Seiwun ini adalah murid dari Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sahibul maulid Simthud Durar. Selama di majelis Habib Muhammad ini, teman Habib Hadi selama belajar di sana adalah Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (ayahanda Habib taufik, Pasuruan).
Kalau malam, Habib Hadi bermunajat, berdzikir dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT (qiyamul lail), sedangkan kalau siang hari ia berpuasa. Wajarlah melihat aktivitas ibadah dari Habib hadi telah terlihat sejak kecil, membuat sang guru, Habib Muhammad memberikan kedudukan yang istimewa di tengah murid-muridnya.
Dalam mengajar, Habib Muhammad selalu menyediakan tempat duduk di sampingnya dalam keadaan kosong, dan tidak pernah ada seorang pun dari murid-muridnya yang berani menempati tempat duduk yang kosong itu. Tempat duduk yang kosong itu adalah tempat duduk Habib Hadi bin Abdullah Al-Hadar.
Pada umur 20 tahun, Habib Hadi pulang ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya. Saat itu ia disambut oleh saudara-saudaranya yang saat itu sudah sukses di Surabaya, seperti Habib Ahmad (pemborong jalanan), Habib Muhamad (pedagang beras), Habib Mustafa (saudagar kopra). Tapi, Habib Hadi menolak semua sambutan yang meriah, ia menolak pakaian yang sudah dipersiapkan oleh saudara-saudaranya.
Melihat saudaranya yang sudah maju, Habib Hadi tidak terpikat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia justru mampir ke tempat kenalannya yakni H. Abdul Aziz, seorang pedagang kain. Habib Hadi tiap hari berjualan sarung, kain batik di pasar. Melihat Habib Hadi jualan di pasar, saudara-saudaranya marah. Habib Hadi kemudian ditarik kerja di pelabuhan bagian menimbang kopra.
Akhirnya Habib Hadi, menurut perintah saudara-saudaranya kerja di pelabuhan. Namun, sebelum kerja di pelabuhan, ia sempat mampir ke pasar untuk membeli paesan (nisan untuk orang mati) dan selalu dibawa ke tempat kerja. Nisan yang terbuat dari kayu itu ditaruhnya di bawah timbangan dan selalu ditaburi bunga yang masih segar. “Saya kalau menimbang kopra selalu ingat nisan yang ada di bawah timbangan. Dengan mengingat nisan ini, saya selalu ingat akan mati, maka timbangannya harus pas. Karena yang saya timbang ini akan dipertanggungjawabkan, kelak di hari kiamat,” kata Habib Hadi mengomentari tingkahnya yang selalu membawa nisan saat bekerja.
Pernah ia dipindah ke bagian keuangan (kasir), suatu saat ia mengumpulkan uang yang rusak, palsu dan dikumpulkan semua. Dan akhirnya semua uang yang rusak itu dibuang ke laut. Melihat perilaku Habib Hadi, saudara-saudaranya sudah habis rasa kesalnya. Mereka marah dengan perilaku Habib Hadi.
Melihat ketidakcocokan dalam bekerja dengan saudara-saudaranya, Habib Hadi kemudian berhenti bekerja dan lebih banyak beribadah serta hadir di acara-acara haul para ulama dan habib yang tersebar di Pulau Jawa, mulai Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi. Habib Hadi kembali berdagang kain untuk menghidupi keluarga. Uniknya dalam berdagang, ia selalu jujur mengatakan harga yang sebenarnya dari barang yang dijualnya kepada pembelinya.”Boleh kamu kasih ongkosnya, atau lebihkan sedikit dari barang ini,” kata Habib Hadi kepada para pembelinya.
KH Chasan Abdillah salah seorang ulama ternama di Glenmoore, Banyuwangi pernah berkata kepada Habib Hadi, ”Habib, anda tidak ditipu sama orang dengan berjualan seperti itu?”
“Biar orang-orang menipu saya. Yang penting, saya tidak menipu sama orang lain,” kata Habib Hadi kepada KH Chasan Abdillah.
Habib Hadi saat Banyuwangi dikenal sangat dekat dengan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff (Pasuruan). Saat itu Habib Ja’far mempunyai tasbih kesayangan yang diperoleh dari Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Tasbih itu ternyata adalah milik Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. “Siapa yang memegang tasbih ini akan membuat kenyang akan dzikrullah,” kata Habib Ja’far kepada orang-orang yang ada di majelis. Orang-orang berebut ingin mendapatkannya. Tapi Habib Ja’far bin Syaikhon mencegahnya.”Sebentar lagi orangnya akan datang.” Tak berapa lama kemudian Habib Hadi hadir di majelis, Habib Ja’far langsung bangkit dan mengalungkan tasbih kesayangannya ke leher Habib Hadi.
Saking dekatnya antara Habib Ja’far, kalau Habib Hadi datang, selalu diajaknya ke kamar dan dikunci. Sekalipun Habib Ja’far sedang ada pengajian atau tamu, Habib Hadi selalu diajaknya ke kamar khusus. Apa yang mereka perbincangkan, tidak ada yang tahu.
Habib Hadi wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan) dan dimakamkan di komplek makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi.

Selasa, 09 Juli 2013

Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi


Betapa sedihnya Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Pemuda berusia 22 tahun itu ditinggal mati ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al- Habsyi, Sohibul Simtud Duror, pada tahun 13331 H / 1913 M. kota Seiyun, Hadramaut, yaman, itu terasa asing bagi ayah satu anak ini, Habib Alwi adalah anak bungsu, paling disayang Habib Ali. Begitu juga, Habib Alwi pun begitu menyayangi ayahnya, sehingga dirinya bagaikan layangan yang putus benangnya.
Hababah Khodijah, kakak sulungnya, yang terpaut 20 tahun, merasakan kesedihan adiknya yang telah diasuhnya sejak kecil. Daripada hidup resah dan gelisah, oleh putrid Habib Ali Al-Habsyi, Habib Alwi disarankan untuk berwisata hati ke Jawa, menemui kakaknya yang lain, Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi di Betawi.
Habib Alwi pergi ke Jawa ditemani Salmin Douman, antri senior Habib Ali Al-Habsyi, sekaligus sebagai pengawal. Beliau meninggalkan istri yang masih mengandung di Seiyun, yang tak lama kemudian melahirkan, dan anaknya diberi nama Ahmad bin Alwi Al-Habsyi.
Kabar kedatangan Habib Alwi telah menyebar di Jawa, karena itulah banyak murid ayahnya ( Habib Ali Al-Habsyi ) di Jawa menyambutnya, dan menanti kedatangannya di kota masing-masing.
Pertama kali Habib Alwi tinggal di Betawi beberapa saat. Kemudian beliau ke Garut, Jawa Barat, menikah lagi. Dari wanita ini lahir Habib Anis dan dua adik perempuan. Lalu, beliau pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Disana beliau menikah lagi, dianugerahi banyak anak, dan yang sekarang masih hidup adalah Habib Abdullah dan Fathimah.
Selanjutnya beliau pindah lagi ke Jatiwangi, Jawa Barat, dan menikah lagi dengan wanita setempat. Dari perkawinan itu, beliau memilki enam anak, tiga lelaki dan tiga perempuan. Di antaranya adalah Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi serta Habib Fadhil bin Alwi yang meninggal pada akhir Agustus 2006.
Akhirnya, Habib Alwi pindah ke Solo, Jawa Tengah. Pertama kali, Habib Alwi sekeluarga tinggal di Kampung Gading, di tempat seorang raden dari Kasunan Surakarta. Kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari Habib Muhammad Al-Aydrus ( kakek Habib Musthafa bin Abdullah Al-Aydrus, Pemimpim Majlis Dzikir Ratib Syamsisy Syumus ), seorang juragan tenun dari kota Solo, di Kampung Gurawan.
Wakaf itu dengan ketentuan : didirikan masjid, rumah, dan halaman di antara masjid dan rumah. Masjid tersebut didirikan pada tahun 1354 H / 1934 M. Habib Ja'far Syaikhan Assegaf mencatat tahun selesainya pembangunan Masjid Riyadh itu dengan sebuah ayat 14 surah Shaf ( 61 ) di dalam al-Qur'an, yang huruf-hurufnya berjumlah 1354. ayat tyersebut, menurut Habib Ja'far yang meninggal di Pasuruan 1374 H / 1954 M ini, sebagai pertanda bahwa Habib Alwi akan terkenal dan menjadi khalifah pengganti ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Sementara rumah di Gurawan No.6 itu lebih dahulu berdiri dan halaman yang ada kini disambung dengan masjid dan rumah menjadi ruang Zawiyah ( pesantren ) dan sering digunakan untuk kegiatan haul, Maulid, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Struktur ruang Zawiyah ini seperti Raudhah, taman surga di dinia, yaitu ruang antara kamar Nabi saw dan masjid Nabawi. Sekarang bangunan bertambah dengan bangunan empat lantai yang menghdap ke Jln. Kapten Mulyadi 228, yang oleh sementara kalangan disebut Gedung Al-Habsyi.
Tentang rumah Habib Alwi di Solo, Syekh Umar bin Ahmad Baraja', seorang giru di Gresik, pernah berujar, rumahnya di Solo seakan Ka'bah, yang dikinjungi banyak orang dari berbagai daerah. Ucapan ulama ini benar. Sekarang, setiap hari rumah dan masjidnya dikinjungi para habib dan muhibbin dari berbagai kota untuk tabarukan atau mengaji.
Habib Alwi telah memantapkan kemaqamannya di Solo. Masjid Riyadh dan Zawiyahnya semakin ramai dikunjungi orang. Beliau tidak saja mengajar dan menyelemggarakan kegiatan keagamaan sebagaimana dulu ayahnya di Seiyun, Hadramaut. Namun beliau juga memberikan terapi jiwa kepada orang-orang yang hatinya mendapat penyakit.
Ketika di Surabaya, bertempat di rumah Salim bin Ubaid, diceritakan Habib Alwi didatangi seseorang dari keluarga Chaneman, yang mengeluhkan keadaan penyakit ayahnya dan minta doa' dari Habib Alwi. Beliau mendoa'kan dan menganjurkannya untuk memakai cincin yang terbuat dari tanduk kanan kerbau yang berkulit merah. "Insya Allah. Penyakitmu akan sembuh." Katanya waktu itu.
Tahun 1952, Habib Alwi melawat ke kota-kota di Jawa Timur. Kunjungannya disertai Sayyid Muhammad bin Abdullah Al-Aydrus, Habib Abdul Qadir bin Umar Mulchela ( ayah Habib Husein Mulachela ), Syekh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin Abdul Deqil dan Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf ( ayah Habib tayfiq Assegaf, Pasuruan ), yang kemudian mencatatnya dalam sebuah buku yang diterjemahkan Habib Novel bin Muhammad Al-Aydrus berjudul Menjemput Amanah.
Perjalanan rombongan Habib Alwi ke Jawa Timur itu berangkat tahun 1952. tujuan utama perjalanan tersebut adalah mengunjungi Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ( 1285-1376 H / 1865-1956 M ) di Gresik. Namun beliau juga bertemu Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad ( 1303-1376 H / 1883-1956 M ) di Jombang, Habib Ja'far bin Syeikhan ( 1289-1374 H / 1878-1954 M ) di Pasuruan dan ulama lainnya.
Setahun setelah kepergiannya ke Jawa Timur, pada tahun 1953 Habib Alwi pergi ke kota Palembang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Namun, di kota itu, beliau menderita sakit beberapa saat. Seperti tahu bahwa saat kematiannya semakin dekat, beliau memanggil Habib Anis, anak lelaki tertua yang berada di Solo. Dalam pertemuan itu beliau menyerahkan jubahnya dan berwasiat untuk meneruskan kepemimpinannya di Masjid dan Zawiyah Riyadh di Solo. Habib Anis, yang kala itu berusia 23 tahun, dan baru berputra satu orang, yaitu Habib Husein, harus mengikuti amanah ayahnya.
"Sebetulnya waktu itu Habib Anis belum siap untuk menggantikan peran ayahnya. Tetapi karena menjunjung amanah, wasiat itu diterimanya. Jadi dia adalah anak muda yang berpakaian tua." Tutur Habib Ali Al-Habsyi, adik Habib Anis dari lain ibu.
Akhirnya Habib Alwi meninggal pada bulan Rabi'ul awal 1373 H / 27 November 1953. pihak keluarga membuka tas-tas yang dibawa oleh Habib Alwi ketika berangkat ke Palembang. Ternyata satu koper ketika dibuka berisi peralatan merawat mayat, seperti kain mori, wangi-wangian, abun dan lainnya. Agaknya Habib Alwi telah diberi tanda oleh Allah swt bahwa akhir hidupnya sudah semakin dekat.
Namun ada masalah dengan soal pemakaman, Habib Alwi berwasiat supaya dimakamkan di sebelah selatan Masjid Riyadh Solo.sedang waktu itu tidak ada penerbangan komersil dari Palembang ke Solo. Karena itulah, pihak keluarga menghubungi AURI untuk memberikan fasilitas penerbangan pesawat buat membawa jenazah Habib Alwi ke Solo. Ternyata banyak murid Habib Alwi yang bertugas di Angkatan Udara, sehingga beliau mendapatkan fasilitas angkutan udara. Karena itu jenazah disholatkan di tiga tempat : Palembang, Jakarta dan Solo.
Ada peristiwa unik yang mungkin baru pertama kali di Indonesia, bahkan di Dunia. Para kerabat dan Kru pesawat terbang AURI membacakan Tahlil di udara.
Masalah lain timbul lagi. Pada tahun itu, sulit mendapatkan izin memakamkan seseorang di lahan pribadi, seperti halaman Masjid Riyadh. Namun berkat kegigihan Yuslam Badres, yang kala itu menjadi anggota DPRD kota Solo, izin pun bisa didapat, khusus dari gubernur Jawa tengah, sehingga jenazah Habib Alwi dikubur di selatan Masjid Riyadh.
Makmnya sekarang banyak di ziarahi para Habib dan Mihibbin yang datang dari berbagai kota. Beliau dikenang serbagai ulama yang penuh teladan, tangannya tidak lepas dari tasbih, juga dikenal sangat menghormati tamu yang datang kepadanya. Habib Alwi pin tidak pernah disusahkan oleh harta benda. Meski tidak kaya, ketika mengadakan acara haul atau Maulidan, ada saja uang yang didapatnya. Allah swt telah mencukupi rezekinya dari tempat yang tidak terduga.

Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad

Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad bin Abdullah bin Thaha Abdullah bin Umar bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abu Bakar Abu Thahir Al-Alawi asy-Syarif al-Huseini lahir di Bandar Qaidun, Hadramaut, pada 14 Syawal 1301 H ( bertepatan dengan 7 Agustus 1884 M ). Sejak kecil beliau memang sudah bercita-cita menjadi ulama. Itu sebabnya beliau sangat teguh dan rajin menuntut ilmu dan berguru kepada para ulama besar, sehingga mampu menguasai berbagai ilmu naqli ( berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah ) dan aqli ( berdasarkan akal ). Beliau bahkan juga mampu melakukan istinbat ( proses penggalian hukum islam ) dan ijtihad ( penggalian hukum syari'at yang belum tertera dalam Al-Qur'an dan Sunnah ) yang sangat cermat.
Selain mengaji kepada keluarganya, semasa remaja di Hadramaut beliau juga berguru kepada para ulama seperti Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas, Habib Thahir bin Umar Al-Haddad dan Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad. Beliau juga mendalami ilmu hadits dengan menamatkan kitab-kitabKutubus Sittah, Riyadush Sholihin, Bulughul Maram, Jami'ush Shagir. Beliau juga mendalami kitab Ad-Dhawabil Jaliyah fil Asanid al-'Aliyah, karya Syekh Al-'Allamah al-Musnid Shafiuddin Ahmad bin Muhammad al-Qasyasy al-Madani.
Disamping itu, beliau juga berguru kepada Sayyid Alwi Al-Haddad, Habib Thahir bin Abi Bakar Al-Haddad , masih banyak guru yang mewariskan ilmu kepadanya, seperti Al-Mu'ammar Sirajuddin Umar bin Utsman bin Muhammad Ba Utsman Al-Amudi ash-Shiddiq al-Bakari dan Sayyid Abdur Rahman bin Sulaiman Al-Ahdal.
Seperti para ulama salaf yang lain, sejak masih sangat muda kecerdasan Habib Alwi sudah tampak. Pada usia 12 tahun, misalnya, beliau sudah menghatamkan kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam Ghazali. Bahkan pada usia 17 tahun, beliau sudah mampu mengajar ilmu tafsir, hadits, fiqih, usul fiqih, tarikh, falaq, nahwu, sharaf, balaghah, filsafat dan tasawuf.
Termasyhur sebagai ulama yang kaya dengan ilmu agama, dalam setiap majlis Habib Alwi dikenal sebagai pembicara yang mampu menjelaskan masalah agama dengan berbagai dalil aqli dan naqli. Bukan hanya itu, beliau juga termasyhur sebagai penulis kajian agama di berbagai surat kabar, meliputi berbagai masalah agama, fatwa, sejarah, kemasyarakatan, bahkan juga politik.kitab keislamanan yang disusunnya, antara lain, Al-Qaul al-Fash fi Ma li Bani hasyim wa Quraisy wal Arab min al-Fadhl ( 2 jilid ), Durus as-Sirah an-Nabawiyah ( 2 jilid kecil ), Mukhtashar aqd al-Aali ( ringkasan karya sayyid Idrus bin Umar Al-Habsyi ), I'anah an-Nahidh fil ilm al-Faraidh, Majmu'ah min Ulum al-Falaq, Ath-Thabaqat al-Alawiyyah. Belum lagi sebuah kitab berisi kumpulan 12.000 fatwa dan dua jilid kitab tentang hukum nikah dalam bahasa Melayu.
Habib Alwi lebih dikenal sebagai guru besar para ulama. Selain mengajar di Jakarta, beliau pernah mengajar di Bogor dan dikota-kota lain di Jawa. Muridnya yang kemudian terkenal sebagai ulama besar, antara lain, Habib Alwi bin Syekh Bilfaqih, Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki, Habib Salim Jindan, Habib abu bakar Al-Habsyi, Habib muhammad bin Ahmadv Al-Haddad, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih, Habib Husein bin Abdullah bin Husein Al-Aththas, Syekh Hasan Muhammad Al-Masyath al-Maliki, KH. Abdullah Nuh, KH.Abdullah Syafi'i.
Di Jakarta beliau mengajar di Jami'at Kheir ( berdiri 1905 ) , selain mengajar, beliau juga merangkap sebagai wakil Mudir, sementara yang bertindak sebagai mudir adalah Sayyid Umar bin Saqaf As-Saqaf. Kala itu Jamia'at Kheir juga mengundang sejumlah guru dari berbagai negeri, seperti Ustadz Hasyimi ( Tunisia ), Syekh Ahmad bin Muhammad As-Surkati ( Sudan ), Syekh Muhammad Thayyib Al-Maghribi ( Maroko ), Syekh Muhammad Abdul Hamod ( Makkah ). Beliau juga sebagai salah seorang pendiri ar-Rabithah al-Alawiyah.
Selain mengajar di Jakarta, beliau juga mengajar di Bogor dan kota-kota lain di Jawa, bahkan kemudian berdakwah ke berbagai negeri, seperti Somalia, Kenya, Arab Daudi, Malaysia. Belakangan beliau diangkat sebagai Mufti di Kesultanan Johor, Malaysia ( 1934-1961 ), menggantikan ( Alm.) Dato Sayyid Abdul qadir bin Mohsen Al-Aththas. Selama menjadi Mufti, beliau sering berdakwah ke berbagai pelosok kampung dan masjid.
Pada 14 November 1962 ( 1382 H ) Habib Alwi bin Thahir bin Abdullah Al-Haddad wafat. Jenazahnya di kebumikan di kompleks Pemakaman Mahmudiah, Johor Bahru, Malaysia.

Datuk Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad bin Abdullah bin Thaha Abdullah bin Umar bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abi Bakar Abu Thahir al-Alawi asy-Syarif al-Huseini. Sampai nasabnya kepada Saidina Ali bin Abi Thalib yang kahwin dengan Saidatina Fatimah binti Nabi Muhammad s.a.w. Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad lahir di Bandar Qaidun, Hadhramaut, Yaman pada 14 Syawal 1301 H/7 Ogos 1884 M.
Dalam Tasynif al-Asma' oleh Abi Sulaiman Mahmud Sa'id bin Muhammad Mamduh menyebut bahawa Saiyid 'Alwi bin Thahir al-Haddad meninggal dunia di Jakarta, ibu kota Indonesia, pada bulan Jamadilakhir 1382 H (hlm. 383). Nik Yusri Musa dalam kertas kerja berjudul Polemik Datuk Sayed bin Tahir al-Haddad dan A. Hassan Bandung: Gambaran Pemikiran Fiqh Nusantara menyebut bahawa Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad meninggal dunia pada 14 November 1962 M dan dikebumikan di Tanah Perkuburan Islam Mahmudiah Johor Bahru (lihat Prosiding Nadwah Ulama Nusantara III, 2005 M/1427 H, hlm. 538).
Ditinjau dari segi tarikh wafat kedua-dua maklumat di atas adalah sepakat kerana 14 November 1962 M adalah bersamaan dengan 17 Jamadilakhir 1382 H. Tetapi tempat wafat masih perlu ditinjau kerana Tasynif al-Asma' hanya menyebut Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad wafat di Jakarta dan tidak menyebut di mana dikebumikan.
Dalam kertas kerja Nik Yusri Musa pula dinyatakan bahawa beliau dikebumikan di Johor Bahru, tetapi tidak menyebutkan di mana sebenarnya Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad wafat. Apakah memang benar beliau wafat di Jakarta kemudian jenazahnya dibawa ke Johor Baharu juga tidak dijelaskan. Sekiranya benar beliau wafat di Jakarta ada kemungkinan dikebumikan di Jakarta ataupun Bogor kerana Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad sebelum ke Johor memang tinggal di sana. Murid beliau pun memang ramai di Jakarta dan Bogor.
Seperkara lagi ketika tarikh wafat Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad, 14 November 1962 M itu, urusan penerbangan dari Jakarta ke Singapura mungkin sedikit terganggu kerana detik-detik awal konfrontasi Indonesia-Malaysia, sedangkan Singapura ketika itu dalam Malaysia. Oleh itu sejarah yang demikian perlu diselidiki dengan lebih kemas lagi.
Dalam kertas kerja Nik Yusri Musa juga dinyatakan bahawa Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad bertugas sebagai Mufti Kerajaan Negeri Johor dari tahun 1934 - 1961 (Ibid, hlm. 538). Maklumat ini berbeza pendapat dengan tulisan Othman bin Ishak dalam buku Fatwa Dalam Perundangan Islam yang menyebut bahawa Datuk Saiyid Alwi bin Thahir al-Haddad menjadi Mufti Johor tahun 1934 - 1941, Datuk Haji Hasan bin Haji Yunus menjadi Mufti Johor 1941 - 1947 dan Datuk Haji Abd. Jalil Hasan menjadi Mufti Johor 1961 - 1964 (lihat terbitan Fajar Bakti, 1981, hlm. 31).
Mufti Johor yang berikutnya ialah Datuk Haji Abd. Rahim bin Haji Yunus tahun 1965 - 1977. Sesudahnya ialah Datuk Saiyid Alwi bin Abdullah al-Haddad. Mengenai nama ini hendaklah diperhatikan bahawa pada hujung nama sama-sama menggunakan 'al-Haddad'. Jadi bererti ada dua orang keturunan 'al-Haddad' yang pernah menjadi Mufti Kerajaan Johor.
PENDIDIKAN
Guru-gurunya di Hadhramaut ialah Habib Ahmad bin al-Hasan al-Attas al-Alawi, Habib Thahir bin Umar al-Haddad, dan Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad. Banyak bidang ilmu tradisi yang beliau peroleh daripada keluarganya sendiri yang berketurunan Nabi Muhammad s.a.w..
Sungguhpun demikian yang lebih diutamakan ialah tentang hadis dan ilmu-ilmu yang dibangsakan kepada hadis itu. Berkali-kali Saiyid Alwi al-Haddad menamatkan kitab as-Sittah, Riyadh ash-Shalihin, Bulugh al-Maram, Jami' ash-Shaghir. Sehubungan dengan hadis Saiyid Alwi al-Haddad juga mempelajari kitab-kitab mengenai sanad hadis di antara kitab-kitab itu ialah ad-Dhawabidh al-Jaliyah fi al-Asanid al-'Aliyah karya Syeikh al-Allamah al-Musnid Syamsuddin Abdullah bin Fathi al-Farghali al-Hamisyi. Demikian juga kitab ats-tsabat yang berjudul as-Samth al-Majid karya Syeikh al-Allamah al-Musnid Shafiyuddin Ahmad bin Muhammad al-Qasyasy al-Madani. Saiyid Alwi al-Haddad telah berhasil memperoleh ilmu dan ijazah daripada para gurunya serta dengan sanad-sanad yang bersambung.
Selain guru tersebut, Saiyid Alwi al-Haddad juga memperoleh ilmu daripada ayah saudaranya Imam Habib Abdullah bin Thaha al-Haddad, juga dengan Habib Thahir bin Abi Bakri al-Haddad. Guru-guru beliau yang lain pula ialah al-Mu'ammar Sirajuddin Umar bin Utsman bin Muhammad Ba Utsman al-Amudi ash-Shiddiqi al-Bakari. Saiyid Alwi al-Haddad juga sempat mendengar riwayat hadis daripada al-Allamah as-Saiyid 'Abdur Rahman bin Sulaiman al-Ahdal yang wafat tahun 1250 H/1834 M.
Diriwayatkan bahawa Saiyid Alwi al-Haddad ialah seorang yang sangat cergas. Sedikit saja belajar namun pencapaian pengetahuan terlalu banyak. Ketika berumur 12 tahun Saiyid Alwi al-Haddad tamat belajar Ihya' 'Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali. Dalam usia 17 tahun beliau telah mulai mengajar dan mengajar kitab yang besar-besar dan ilmu yang berat-berat dalam usia 20 tahun. Ilmu-ilmu yang beliau ajar dalam usia itu ialah ilmu tafsir, hadis, fiqh, usul fiqh, tarikh, falak, nahu, sharaf, balaghah, falsafah dan tasawuf.
PEMIKIRAN
Saya mulai mengikuti tulisan-tulisan Saiyid Alwi al-Haddad sejak tahun 1966, iaitu yang dimuat dalam Warta Jabatan Agama Johor. Salah satu karya Saiyid Alwi al-Haddad bagi saya yang cukup menarik ialah sebuah karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang diberi judul Sejarah Islam di Timur Jauh. Saya ringkaskan saja bahawa karya Saiyid Alwi al-Haddad yang telah diketahui sebagai berikut:
1. Anwar al-Quran al- Mahiyah li Talamat Mutanabi' Qadyani (dua jilid).
2. Al-Qaul al-Fashl fi ma li al-Arab wa Bani Hasyim min al-Fadhal. Kitab ini terdiri daripada dua jilid. Kandungannya merupakan sanggahan terhadap fahaman pembaharuan Islam yang dibawa oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati as-Sudani.
3. Al-Khulashah al-Wafiyah fi al-Asanid al-'Aliyah. Kitab ini menggunakan nama keseluruhan guru Saiyid Alwi al-Haddad tentang qiraat dan ijazah.
4. 'Iqd al-Yaqut fi Tarikh Hadhramaut.
5. Kitab as-Sirah an-Nabawiyah asy-Syarifah.
6. Dalil Khaidh fi 'Ilm al-Faraidh.
7. Thabaqat al-'Alawiyin (sepuluh jilid).
8. Mu'jam asy-Syuyukh.
9. 'Uqud al-Almas bi Manaqib al-Habib Ahmad bin Hasan al-'Athas.
Sekiranya kita sempat membaca keseluruhan karya Saiyid Alwi al-Haddad yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahawa sangat luas pengetahuan yang beliau bahaskan. Saiyid Alwi al-Haddad diakui sebagai seorang tokoh besar dalam bidang sejarah, ahli dalam bidang ilmu rijal al-hadis.
Lebih khusus lagi sangat mahir tentang cabang-cabang keturunan 'al-Alawiyin' atau keturunan Nabi Muhammad s.a.w. Setahu saya memang tidak ramai ulama yang berkemampuan membicarakan perkara ini selain Saiyid Alwi al-Haddad. Boleh dikatakan tidak ada ulama dunia Melayu menulisnya secara lengkap. Sekiranya ada juga ia dilakukan oleh orang Arab keturunan Nabi Muhammad s.a.w. seperti yang pernah dilakukan Saiyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi.
Saiyid Alwi al-Haddad ialah seorang ulama yang berpendirian keras dan tegas mempertahankan hukum syarak. Gaya berhujah dan penulisan banyak persamaan dengan yang pernah dilakukan oleh Saiyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi, Mufti Betawi. Saiyid Alwi al-Haddad selain menyanggah pendapat dan pegangan Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati yang lebih keras dibantahnya ialah A. Hassan bin Ahmad Bandung.
Bukan Saiyid Alwi al-Haddad saja yang menolak pegangan A. Hassan bin Ahmad Bandung tetapi perkara yang sama juga pernah dilakukan oleh Haji Abu Bakar bin Haji Hasan Muar. Sanggahan Haji Abu Bakar Muar terhadap A. Hassan Bandung berjudul Majlis Uraian Muar-Johor. Di bawahnya dijelaskan judul, "Pada menjawab dan membatalkan Al-Fatwa pengarang Persatuan Islam Bandung yang mengatakan babi itu najis dimakan bukan najis disentuh dan mulut anjing pun belum tentu najisnya." Sebenarnya apabila kita meninjau sejarah pergolakan Kaum Tua dan Kaum Muda dalam tahun 1930-an itu dapat disimpulkan bahawa semua golongan 'Kaum Tua' menolak pemikiran A. Hassan Bandung itu khususnya Kerajaan Johor yang muftinya ketika itu Saiyid Alwi al-Haddad yang mengharamkan karya-karya A. Hassan Bandung di Johor.
MURID-MURID
Saiyid Alwi al-Haddad mengembara ke pelbagai negara, antaranya Somalia, Kenya, Mekah, Indonesia, Malaysia dan lain-lain. Di negara-negara yang pernah beliau singgah, beliau berdakwah dan mengajar.
Di Jakarta, Saiyid Alwi al-Haddad pernah mengajar di Madrasah Jam'iyah al-Khair yang diasaskan oleh keturunan 'Saiyid' di Indonesia. Madrasah Jam'iyah al-Khair ialah sekolah Islam yang mengikut sistem pendidikan moden yang pertama di Indonesia, Saiyid Alwi al-Haddad pula termasuk salah seorang guru yang pertama sekolah itu diasaskan. Bahkan beliau ialah Wakil Mudir sekolah itu.
Mudirnya ialah Saiyid Umar bin Saqaf as-Saqaf. Para guru didatangkan dari pelbagai negara. Antara mereka ialah Ustaz Hasyimi yang berasal dari Tunis, Syeikh Ahmad bin Muhammad as-Surkati yang berasal dari Sudan (mengajar di Madrasah Jam'iyah al-Khair tahun 1911 - 1914), Syeikh Muhammad Thaiyib al-Maghribi yang berasal dari Maghribi, Syeikh Muhammad Abdul Hamid yang berasal dari Mekah.
Selain mengajar di Jakarta beliau juga pernah mengajar di Bogor dan tempat-tempat lain di Jawa. Muridnya sangat ramai. Antara tokoh dan ulama besar yang pernah menjadi murid Saiyid Alwi al-Haddad ialah:
1. Saiyid Alwi bin Syaikh Bilfaqih al-Alawi.
2. Saiyid Alwi bin Abbas al-Maliki.
3. Saiyid Salim Aali Jindan.
4. Saiyid Abu Bakar al-Habsyi
5. Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Haddad.
6. Saiyid Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih.
7. Saiyid Husein bin Abdullah bin Husein al-Attas.
8. Syeikh Hasan Muhammad al-Masyath al-Makki.
9. Kiyai Haji Abdullah bin Nuh.

Habib Umar bin Hud Al-Aththos

Habib Umar bin Hud Al-Aththos

Habib Umar Bin Hud Al Athos adalah seorang ulama dan konon
beliau juga seorang wali quthub usianya lebih dari 100 tahun
dilahirkan di penghujung abad ke 19 di Hadramaut, Yaman
Selatan. Sejak usia muda beliau telah datang ke Indonesia. Mula-
mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat. beliau berdakwah sambil
berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka
pengajian dan majelis maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.
Sekitar tahun 1950-an, beliau ke Mekkah dan bermukim selama
beberapa tahun dan selama di mekkah beliu menggunakan
kesempatan tersebut untuk belajar kepada ulama-ulama
setempat. Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia
tertahan di Singapura.
Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI dan
Malaysia, sementara Singapura masih merupakan bagian negara
itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai
konfrontasi, pada awal masa Orde Baru. Tapi, rupanya banyak
hikmah yang diperoleh di balik kejadian tersebut. Karena,
selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata
beliau sangat dihormati oleh umat Islam setempat, termasuk
Brunei Darussalam.
Karenanya tidak heran kalau orang menyebut Maulid Nabi yang
diselenggarakan Habib Umar di Cipayung sebagai maulid
internasional. Maulid ini dihadiri sekitar 100.000 jamaah,
termasuk ratusan jamaah dari mancanegara. Untuk perjamuan
makanan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini
diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Kalau
ditanya orang dari mana dananya, maka Habib Umar selalu
bilang dari Allah.
Sesuatu yang mungkin lain dibandingkan dengan acara-acara
maulud di majelis lain adalah, tidak ada ceramah-ceramah
setelah baca maulud. Acaranya langsung saja yakni baca maulud,
zikir dan ditutup dengan do’a. Tidak adanya ceramah-ceramah
yang sudah tradisi sejak lama itu, karena Habib Umar khawatir
akan menimbulkan saling serang dan fitnah.
Kegiatan rutin Habib Umar yang lain yang memasyarakat adalah
shalat subuh berjamaah di kediamannya di Condet. Setiap hari
terdapat sekitar 300 jamaah subuh yang datang. Khusus pada
hari Jumat, jamaahnya meningkat menjadi sekitar 1.000 orang.
Setipa sabtu mereka para jama’ah diberikan pelajaran Fiqih
sedangkan di Cipayung bogor tiap kamis malam diadakan
pembacaan maulid diba”dan yang menarik adalah setelah
diadakan kegiatan tersebut para jama’ah dijamu oleh Habib
Umar Bin hud seperti nasi uduk lengkap dengan lauk-
pauknya.Habib Umar meninggal dunia pada bulan Agustus 1999
di rumahnya dan dimakamkan di Wakaf al-Hawi dekat dengan
pusat perbelanjaan PGC cililtan sesuai dengan wasiat beliau
ali quthub usianya lebih dari 100 tahun
dilahirkan di penghujung abad ke 19 di Hadramaut, Yaman
Selatan. Sejak usia muda beliau telah datang ke Indonesia. Mula-
mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat. beliau berdakwah sambil
berjualan kain di Pasar Tanah Abang. Kemudian membuka
pengajian dan majelis maulid di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.
Sekitar tahun 1950-an, beliau ke Mekkah dan bermukim selama
beberapa tahun dan selama di mekkah beliu menggunakan
kesempatan tersebut untuk belajar kepada ulama-ulama
setempat. Tapi, sayangnya, saat hendak kembali ke Indonesia, ia
tertahan di Singapura.
Pasalnya, pada awal 1960-an terjadi konfrontasi antara RI dan
Malaysia, sementara Singapura masih merupakan bagian negara
itu. Habib Umar baru kembali ke Tanah Air setelah usai
konfrontasi, pada awal masa Orde Baru. Tapi, rupanya banyak
hikmah yang diperoleh di balik kejadian tersebut. Karena,
selama lebih dari lima tahun di Malaysia dan Singapura, ternyata
beliau sangat dihormati oleh umat Islam setempat, termasuk
Brunei Darussalam.
Karenanya tidak heran kalau orang menyebut Maulid Nabi yang
diselenggarakan Habib Umar di Cipayung sebagai maulid
internasional. Maulid ini dihadiri sekitar 100.000 jamaah,
termasuk ratusan jamaah dari mancanegara. Untuk perjamuan
makanan untuk para jamaah yang menghadiri maulid ini
diperlukan ribuan ekor kambing dan berton-ton beras. Kalau
ditanya orang dari mana dananya, maka Habib Umar selalu
bilang dari Allah.
Sesuatu yang mungkin lain dibandingkan dengan acara-acara
maulud di majelis lain adalah, tidak ada ceramah-ceramah
setelah baca maulud. Acaranya langsung saja yakni baca maulud,
zikir dan ditutup dengan do’a. Tidak adanya ceramah-ceramah
yang sudah tradisi sejak lama itu, karena Habib Umar khawatir
akan menimbulkan saling serang dan fitnah.
Kegiatan rutin Habib Umar yang lain yang memasyarakat adalah
shalat subuh berjamaah di kediamannya di Condet. Setiap hari
terdapat sekitar 300 jamaah subuh yang datang. Khusus pada
hari Jumat, jamaahnya meningkat menjadi sekitar 1.000 orang.
Setipa sabtu mereka para jama’ah diberikan pelajaran Fiqih
sedangkan di Cipayung bogor tiap kamis malam diadakan
pembacaan maulid diba”dan yang menarik adalah setelah
diadakan kegiatan tersebut para jama’ah dijamu oleh Habib
Umar Bin hud seperti nasi uduk lengkap dengan lauk-
pauknya.Habib Umar meninggal dunia pada bulan Agustus 1999
di rumahnya dan dimakamkan di Wakaf al-Hawi dekat dengan
pusat perbelanjaan PGC cililtan sesuai dengan wasiat beliau.

Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bil Faqih


Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bil Faqih adalah sosok ulama yang karismatik, penuh disiplin dan tegas
dalam hukum serta norma agama.beliau di lahirkan tepat tgl 12
robiul awal 1355 H.Dengan semangat belajar yang menggelora
dan bimbingan sang ayah,beliau mampu mengusai 40 fax ilmu
agama. mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi semangat
belajar tidak pernah pudar.Beliau RA benar-benar sebagai pigur
penuntut ilmu yang tak mengenal lelah dan penuh
dedikasi.Dikisahkan oleh keluarga beliau RA dan para santri
ayandanya, bahwa dimasa mudanya beliau RA sering menderita
sakit sampai mengeluarkan darah karena tekunnya duduk
menelaah kitab-kitab yang beliu pelajari
Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BIlFaqih adalah
ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau
menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad
BIlFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren
yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal
1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur. Pesantren
yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-
Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah.Setelah kemangkatan
ayanndanya Habib Abdul qodir bi faqih sebagai putra tunggal
beliau RA otomatis menggantikan posisi ayahandanya
melanjutkan perjuangan dalam bidang pengajaran dan
pendidikan di pesantren maupunbidang da’wah islamiyyah.
Begitupun dengan majlis ta’lim yang pernah di selenggarakan
oleh ayahandanya, beliauRA meneruskan kegiatan tersebut,
majlis ta’lim yang di maksud adalah majlis yang bersifat khusus
( thoriqot) yang di selenggarakan minggu pertama dan minggu
ketiga di pesantren darul hadist.Di samping itu jugabeliau RA
da’wah hingga ke plosok daerah di indonesia dan di berbagai
negara. Setiap akhir ceramahnya beliau RA selalu mengajak para
jamaah untuk mengingat Alloh Swt dan Rosululloh SAW sambil
meneteskan airmata, mengingat lumuran dosa meresapi bahwa
hidup ini hanyalah bersifat sementara dan pada saatnya nanti
kita akan mati serta di mintai pertanggung jawabannya oleh
Sang Pencipta.
Kepada santri-santri dan putra putri nya Beliau RA Memberikan
perhatian yang besar, setiap malam sebelum sholat tahajut
beliau RA selalu keliling P0ndok pesantren untuk melihat santri-
santrinya yang tertidur jika ada kain yang tersingkap beliau
lantas menuntupinya, dan jika beliau mengajar dan tidak tampak
putranya di majlis maka beliu menyuruh santri memanggil putra-
putranya tersebut untuk ikut serta ta’lim di majlis
Ayahandanya tersebut. Beliau RA selalu mengontrol putra-
putri,santri serta murid thoriqohnya dengan jalan zhohir
maupun batin karena beliu adalah termasuk orang MUKASYIF
yakni orang yang dapat melihat hal-hal yang ghoib dengan
tahadutsan bin ni’mah beliu RA Pernah mengatakan bahwa
Alloh SWT memberikan karunia KASYAF Kepadaku sejak aku
masih muda.
Kecintaan beliu kepada Baginda Rosululloh SAW sangat dalam ,
pada saat beliau menyebut baginda Rosululloh SAW selalu
diiringi dengan mengucurkan air mata, hal ini merupakan bukti
kecintaan yang dalam dan tulus dari Beliau RA. Begitu pula pada
acara majlis ta’lim beliau RA mengajak para jama’ah untuk
bertawashul dan bersolawat kepada baginda Rosululoh SAW
dengan mengucurkan air mata, tentu saja ini bukan maksud
untuk dibuat-buat ( seperti banyak yang dituduhkan sebagian
kelompok) bahwa perbutan tersebut menyerupai agama lain
atau aliran sesat, padahal itu emua adalah merupakan bukti
cinta yang mendalam kepada Rosululloh Saw karena kesucian
dan keseriusan cinta maka akan bercucurlah air mata.
Beliau RA adalah seorang ulama besar dan waliyulloh suatu
ketika beliau didatangi oleh Nabi Khidir AS sebagaimana yang
beliau tuturkan , nabi Khidir memberi salam “ SELAMAT
SEJAHTERA WAHAI WALI QUTUB….PUTRA DARI WALI
QUTUB…..DAN BAPAK DARI WALI QUTUB.. ..” dan ini juga adalah
merupakan suatu isyaroh bahwa suatu hari kelak anak-anak
beliau yang masih hidup dan sekarang menjadi pengasuh Pon-
pes Darul Hadist Al faqihiyyah yaitu Habib Muhammad bil Faqih,
habib Abdul qodir bil faqih dan Habib Abdurrohman Bil faqih
akan menjadi wali-wali qutub. Sifat dan karekter mereka dalam
berda’wah dan mengisi majlis ta’lim sama seperti
Ayahandanya tegas dan disiplin, ini yang saya rasakan waktu
saya belajar di pesantren Darul Hadist al faqihiyyah tahun 1998
kalau anak-anak beliau memberikan ceramah atau mengajar di
kelas semua santri akan tertunduk seakan-akan sedang
berhadapan dengan Ayanhanda Beliau Al hafid Habib Abdulloh
Bil Faqih.
Putra beliau RA (sebelah kiri) Habib Muhammad Bil faqih
Isyarah akan berpulangnya Al hafidz Al alamah Al habib
Abdulloh Bil faqih sebagaimana penuturan putra beliau, Bahwa
Ayahandanya Ra bermimpi di emban oleh Baginda Rosululloh
SAW dan ayah akan pergi duhulu bersama ibumu
(almarhumah).Dan di tuturkan juga oleh seseorang yang
dianggap saudara sendiri sekaligus putra guru Beliau yakni Al
habibul Jalil Dzil Majdil Atsil seggaf bin Al imam Abi Bakar bin
Muhammad Assegaf bahwa tiga hari sebelum wafat beliau RA
sempat menghubunginya dan berpesan agar hadir pada hari
Ahad tanggal 30 november 1991 ( hari pemakaman Beliau RA)
dan sempat pula beliua RA menitipkan putra-putrinya. pukul
11.00 beliau Al hafidz memanggil putranya Habib Muhammad bil
Faqih dan putrinya sambil berkata” Do’akan ayahmu panjang
umur….” kurang lebih pukul 13.15 tiba-tiba beliua berucap ”
ya Alloh……menghadaplah beliau RA keharibaan Alloh Swt, inilah
bukti kuasa dan kehendak Alloh SWT.
Berpulanglah Maha Guru Kami tepat tanggal 30 november 1991,
ribuan orang ikut mengiringi …belaiu Ra dimaqomkan di
samping maqom Ayahandanya Al habr Al a’lamah Habib Abdul
Qodir Bil faqih di TPU kasin malang. Ya Alloh Beri kami
keberkahan dari Beliau karena rasa cinta hamba kepada beliau
Ra. amiiin

Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad




Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad adalah seorang yang memiliki khoriqul a’dah yaitu diluar kebiasaan manusia umumnya atau disebut dalam bahasa kewalian majdub atau disebut dengan ahli darkah maksudnya disaat orang dalam kesulitan dan sangat memerlukan bantuan maka beliau muncul dengan tiba-tiba, beliau lahir di qurfha hadramaut Tarim pada tanggal 26 sya’ban 1254 H dan beliau belajar kepada ayahanda beliau sendiri Al habib Alwi Al Haddad dan belajar pula kepada Al habib Ali Bin Husein Al Hadar, Al Habib Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi dan kepada Habib keramat empang bogor Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Attas, beliau digelari Habib Kuncung.      Dikala beliau dewasa beliau didatangi oleh Rasulullah SAW yang akhirnya beliau ziarah ke Madinah, selanjutnya dalam bisyarah beliau disuruh kejawa oleh Nabi SAW.     Dalam suatu cerita yang didapat dari Al Habib Husein Bin Abdullah Bin Mukhsin Al Attas beliau menuju ke lombok kemudian menikah dan memiliki seorang anak, di dalam satu riwayat di bogor ketika beliau menziarahi guru beliau Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Attas dikala itu Al Habib Abdullah Bin Mukhsin sedang sarapan pagi tiba-tiba Habib yang berkharismatik tinggi yang bermagam mulia ini tersenyum, lalu ditanya oleh murid beliau Al Habib Alwi Al Haddad ada apa dikau tersenyum wahai guruku yang mulia ? lihatlah ya Alwi itu Ahmad sedang menari-nari seru beliau, Habib Alwi pun melihatnya seraya beliaupun tersenyum, apakah  kau lihat ya Alwi ? seru habib Keramat , apa wahai  guruku ? Tanya habib Alwi , beliau menjawab ya Alwi itu habib Ahmad menari-nari dengan bidadari.     Kecintaan habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (habib Kuncung) bagai ayah dan anaknya sehingga dimanapun ada habib Abdullah Bin Mukhsin pasti di situ ada habib Ahmad.     Akhir-akhir masa sebelum wafatnya Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad tak habis-habisnya beliau menyenangi hati seorang gurunya, sesampainya beliau ditinggal oleh guru kesayangannya yang akhirnya pada tahun 1345 H tanggal 29 sya’ban sekitar tahun 1926 M pada usia 93 tahun beliau Al Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad kembali ke rahmatullah dan di maqamkan atau dikubur di pemakaman keluarga Al Haddad kalibata Jakarta selatan dan setiap minggu pertama diadakan maulid di pemakaman beliau ba’da ashar.   
Habib Ahmad Bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung)
Created Widget by Ino-Yasha